Tuesday, October 18, 2011

Dakwah Nabi

“Ibadah haji itu berat, tapi perjuangan Nabi sungguh lebih berat…”
Asep Ahmad Furqon, bisa jadi adalah satu mahasiswa paling beruntung se-Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Diponegoro, Semarang. Bagaimana tidak, mahasiswa Biologi angkatan 2004 ini bisa merasakan nikmatnya berhaji di usia yang masih cukup muda. Ketika itu, baru menginjak tahun ketiga di bangku kuliahnya. Tak banyak, mahasiswa yang bisa merasakan ini. Hanya satu-dua saja.
Tahun 2007, kakak Asep, Desi Astuti, sudah mendaftarkan haji. Namun, seorang perempuan yang berhaji haruslah didampingi oleh makhromnya. “Kakak ipar saya, waktu itu sudah haji duluan. Dibiayai kantor, setelah ngobrol dengan keluarga besar, akhirnya saya yang diminta menemani teh Desi”, kata pria asal Serang, Banten ini.
Kesempatan haji yang datang bak durian runtuh ini, tak disia-siakan oleh Asep. Apalagi, seluruh biaya ditanggung oleh sang ibu. “Waktu itu sekitar 28 juta,” ungkap pria berkaca mata ini. Di tanah suci, ia mengaku tak mengalami hal-hal aneh. “Alhamdulillah, nggak ada pengalaman yang aneh, kaya nggak bisa ngomong atau apa,” katanya.
Sering membaca siroh Nabawi atau kisah hidup Rosul, Asep merasakan betapa beratnya berdakwah saat melaksanakan ibadah haji. Ketika melihat Ka’bah, sempat terbayang olehnya bagaimana Rasul yang mulia dilempari kotoran unta, dilempari batu.
Walaupun berhaji di usia yang masih muda, ia merasakan ibadah haji sebagai ibadah yang cukup berat yang memerlukan persiapan jasmani dan rohani yang cukup. “Sekarang sih enak, sudah banyak pohon banyak tenda. Iklim yang panas juga bisa direkayasa dengan kemajuan teknologi. Dulu, zaman Rosululloh kan ga ada teknologi,” ungkap mantan ketua Rohani Islam (ROHIS) FMIPA ini.
Namun, ia membayangkan bahwa beratnya ibadah haji tak seberapa dibandingkan beratnya perjuangan Rasul dan sahabatnya menyebarkan syiar Islam. “Kebayang dong, bagi kita yang datang dengan teknologi luar biasa saja sangat berat, apalagi zaman Rasul yang tak ada teknologi apa pun,” ungkapnya.
Waktu 30 hari di Mekkah dan 10 hari di Madinah dirasa olehnya kurang cukup untuk beribadah. “Merasa banyak waktu yang terbuang,” ungkapnya sedikit kecewa. Ia merasa banyak ibadah sunah yang dilewatkan. “Kalau di Masjidil Haram kan nggak ada shalat sunat tahyatul masjid, adanya thawaf sunah, dulu saya sering melewatkan ini,” katanya.
Ketika itu, ia belum begitu mantap dengan fiqh thawaf sunah ini, sehingga ia merasa kurang bersungguh-sungguh dalam melakukannya. Setelah ia pulang berhaji, barulah ia belajar lebih dalam tentang fiqh thawaf sunah ini.
“Iya, cukup menyesal. Soalnya dari segi fisik masih muda, waktu juga sebenarnya banyak. Tapi gara-gara kurang mantap, akhirnya ngga sering dilakukan. Padahal kan ibadah apa pun yang dilakukan di sana pahalanya besar sekali,” katanya.
Ia biasa berangkat jam 3 pagi sampai jam 7 ke masjidil Haram, lalu kembali lagi jam 12 siang sampai 9 malam. Waktu-waktu di sana ia habiskan untuk membaca Al-Qur’an.
Asep lebih banyak menghabiskan waktu untuk berziarah objek sejarah dari pada wisata belanja. “Saya nggak begitu suka jajan, biasanya masak di pemondokan. Saya jadi ngga tau wisata kuliner di sana,” katanya.
Kalau diberi kesempatan lagi, ia bertekad untuk semakin memperbanyak ibadah. Ia juga ingin memperdalam tempat-tempat sejarah yang ada di sirah nabawi seperti masjid Nabawi dan Gua Hira. “Pengen jalan-jalan sendiri, biar lebih puas,” katanya.

0 comments em “Dakwah Nabi”

Post a Comment


 

Renungkanlah Copyright © 2011 -- Template created by d@nte -- Powered by Blogger