Saturday, November 07, 2015

<span data-sociabuzz-verification="45d0696a" style="display: none;"></span>

Sunday, March 24, 2013

Hakekat Ikhlas

Pada hakikatnya ikhlas hanya ALLAH Ta'ala yang mengetahuinya. Diantara tanda - tanda ikhlas adalah sebagai berikut : 
  • Istiqomah, terus menerus beramal ibadah karena Allah, ada ataupun tidak adaorang, dipuji atau dihina
  • Tidak GR (Ge Er) karena pujian, tidak sakit hati karena hinaan
  • Pantang berkeluh kesah karena semuanya diputuskan Allah dengan rahmat, ilmu dan kebijakan-Nya sehingga tampak muka yang selalu senyum ceria
  • Baik sangka dengan selalu memuji Allah atas segala hal yang terjadi
  • "Qonaah" puas bukan hanya dengan nikmat-nikmat Allah tetapi atas segala keputusan Allah
  • "Attawadu'" rendah hati
  • "Assyahiyyu" belas kasih dengan kedermawan
  • Semangatnya hanya pada yang halal
  • Orientasi hidupnya akhirat
  • Memaafkan dengan mendoakan yang menyakitinya
  • Kalaupun dipuji ia balas dengan doa, "Ya Allah ampuni hamba dari apa yang dia tidak ketahui, jangan Kau hukum hamba karena pujiannya dan jadikan pujiannya lebih baik dari apa yang ia duga"
  • Sibuknya asyik muhasabah diri, tidak tertarik mencari aib orang lain
  • Hobbynya berbuat baik
  • Wiridnya, istigfar, sholawat, "Rhodhitu billaahi Robba wa bilislaami diina wa bi Muhammadin Nabiyya wa Rasuulah
  • Tenggelam dalam kelezatan taat
  • Cinta dengan sunnah Rasulullah 
  • Kuat tawakkalnya
  • Rindunya pada Allah membuat ia mudah menangis

SubhanAllah. "Allahumma ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba Mu yang Kau ikhlaskan, berilah rizki teragung dengan sifat ikhlas di hati, pikiran, lisan dan amal hamba, jauhkan diri hamba dari riya, ujub, loba', tamak dan semua penyakit hati...aamiin".

Saturday, March 02, 2013

Cinta

Pendidikan cinta berbagi telah dipelopori dan diteladankan Nabi SAW dan istri beliau tercinta, Khadijah. Sedemikian cintanya kepada Islam, Khadijah mendermakan hampir seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah dan kejayaan Islam.

Para sahabat juga selalu dididik oleh Nabi SAW untuk gemar berderma dengan menyisihkan sebagian rezki sebagai bukti cinta terhadap Islam, sekaligus sebagai sikap peduli terhadap sesama. Sejarah membuktikan, tradisi tersebut menjadi solusi jitu dalam mengatasi masalah umat, terutama kemiskinan dan kebodohan.

Pendidikan cinta berbagi termasuk ajaran Islam yang paling dini diperkenalkan Nabi setelah pendidikan iman. Pendidikan ini ditanamkan dengan menjauhkan diri dari sikap pamrih, sebab pamrih itu hanya akan menghilangkan nilai derma sekaligus menyuburkan penyakit riya’.

Oleh karena itu, pada masa awal kerasulannya,  Allah SWT dengan tegas menyatakan: “dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS Almudatstsir [74]: 6).

Larangan ini juga sekaligus mendidik Nabi SAW dan para sahabatnya untuk mandiri dalam membangun sistem ekonomi umat yang solid, kuat, dan menyejahterakan semua, sehingga tidak tergantung pada sistem ekonomi kapitalistik dan individualistik ala kafir Quraisy Makkah.

Keberhasilan pendidikan cinta berbagi yang ditanamkan Nabi SAW berdampak sangat positif bagi kemandirian ekonomi dan kewirausahaan umat, sehingga selama sepuluh tahun berada di Madinah tidak pernah ada krisis moneter, krisis pangan, kelaparan, gizi buruk, dan sebagainya.

Zakat, infaq, sedekah, wakaf, dan hibah diatur dan diberdayagunakan sedemikian rupa, sehingga take and give, kebersamaan, kemitraan, dan keadilan sosial itu dapat terwujud dengan sangat indah.

Bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu; dengarlah dan taatilah; dan dermakanlah derma yang baik untuk dirimu. Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Attaghabun [64]: 16).Dengan demikian, pendidikan cinta berbagi merupakan solusi jitu untuk mengatasi kemiskinan dan kebodohan.

Gagasan pendirian Baitul Mal oleh Umar bin al-Khaththab merupakan upaya institusionalisasi filantropi dengan menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan kekayaan dari, oleh, dan untuk kemaslahatan umat.

Baitul Hikmah dan Universitas al-Azhar di Mesir, misalnya, didirikan, dikembangkan, dan dibesarkan oleh donasi filantropi sebagai manifestasi pendidikan cinta berbagi.

Umat Islam sesungguhnya tidak pernah miskin jika aset kedermawanan sosial umat  dapat didata, dikelola,  dikembangkan, dan dimanfaatkan dengan penuh amanah dan manajemen modern. Karena itu, yang sangat diperlukan saat ini adalah sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai pendidikan cinta berbagi pada diri umat Islam.

 

Renungkanlah Copyright © 2011 -- Template created by d@nte -- Powered by Blogger