Tuesday, January 25, 2011

Taubat

Taubat merupakan suatu keniscayaan bagi kita semua. Keniscayaan tersebut dapat dipahami dari faktor bahwa manusia tidak pernah terlepas dari kesalahan dan dosa. Sehingga terkadang, hari-hari yang dilalui sulit untuk sunyi dari perbuatan dosa baik kecil maupun besar.

Atas dasar itu, maka Allah menyeru manusia untuk segera bertaubat kepada-Nya dengan serius dan sepenuh hati, sebagaimana disinyalir dalam surat al-Tahrim ayat 8 yang artinya: “Hai orang-orang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” Kendati demikian, ternyata tidak sedikit manusia yang enggan untuk memenuhi seruan Allah agar mereka dapat suci kembali kepadanya dengan serangkaian perubahan yang signifikan terjadi dalam diri ke arah lebih baik.

Memang tidak dapat dipungkiri, untuk mencapai kepada keasadaran untuk bertaubat terdapat berbagai rintangan yang menghalangi manusia. Kebanyakan penghambat manusia untuk bertaubat selalu bersifat psikologis yang timbul dari dalam diri manusia itu sendiri, lalu berpengaruh terhadap perilakunya, yaitu:

Pertama, Meremehkan Dosa. Meremehkan dosa, menganggapnya masalah yang enteng, hatinya tidak gundah dan tidak merasa takut. Sehingga perbuatan-perbuatan dosa yang dilakukannya sudah menjadi kebiasaan bahkan tidak merasa punya kesalahan sama sekali.
  
Dalam sebuah hadis dari Ibn Mas’ud telah disebutkan. “Orang mukimin ini melihat dosanya seperti gunung. Dia takut gunung itu menimpa dirinya. Sedangkan orang munafik melihat dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya, lalu dia menepisnya begini dan begitu.”

Hadis ini begitu jelasnya menggambarkan sikap orang mukmin terhadap dosa yang menganggapnya bukan hal yang sepele atau main-main. Sedangkan sebaliknya orang munafik melihat dosa itu hanya barang mainan yang tidak perlu menjadi perhatian dan pikiran. Serta kekhawatiran. Dengan menganggap remeh terhadap dosa yang ia lakukan menjadikannya lupa atau tidak perlu sama sekali untuk mendapatkan ampunan dari Allah Yang Pengampun Lagi Maha Penyayang.

Kedua, Berangan-angan. Seseorang yang selalu berangan-angan adalah orang yang menganggap hidupnya masih panjang, bahwa kematiannya masih jauh, umurnya masih lama dan bisa dia pergunakan untuk bercanda ria sesukanya, lalai, mengumbar nafsu dan mengikuti jalan syetan.

Penyakit yang biasa menimpa diri manusia ialah karena dia selalu beranggapan bahwa hidupnya masih lama dan masih ingin menghindari dari jerat kematian sekalipun kematian itu sudah tampak di depan matanya. Bagi seorang pemuda berumur dua puluh tahun berkata: “Aku akan bertaubat pada umur empat puluh tahun, sedangkan orang yang lebih tua akan juga mengatakan hal demikian.

Oleh karena itu, Rasulullah Saw mengajarkan agar setiap hidup di dunia ini seperti orang asing. Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari: “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengelana dan anggaplah dirimu termasuk penghuni kubur”

 
Ketiga, Mengandalkan Ampunan Allah. Mengandalkan ampunan Allah dan kekuasaan rahmat-Nya, sebagaimana yang dikisahkan Allah tentang orang-orang Yahudi dalam surat al-A’raf ayat 169, yang melakukan kesalahan terhadap Allah, namun berkeyakinan mereka akan diampuni Allah. Padahal sikap tersebut menunjukkan keangkuhan orang Yahudi terhadap Allah seolah-olah mereka tahu bahwa segala dosa yang telah mereka kerjakan diampuni oleh Allah Swt.

Padahal,  dari mana dia mendapatkan jaminan bahwa Allah akan mengampuni dosanya? Apakah dia sudah membuat perjanjian atau mengambil kartu ampunan dari Allah? Allah mengampuni siapa pun yang dikehendaki-Nya dan mengazab siap pun yang dikehndaki-Nya serta tak seorang pun yang bisa mempengaruhi ketetapan-Nya.

Keempat, Beralasan Dengan Takdir. Orang yang terperangkap jerat kedurhakaan dan terpedaya berbagai  angan-angan dan selalu bergelimang dengan kemaksiatan, korupsi, berzina, minum khamar, berjudi dan lain-lain jika diseru melepaskan diri dari lembah kedurhakaan supaya menjadi taat serta bergabung bersama-sama orang-orang yang taat kepada Allah, mereka sering mengatakan,  ”Ini sudah takdirku” Allah telah menetapkannya atas diriku, sehingga aku tidak bisa lari darinya. Manusia harus rela terhadap ketetapan takdir atas dirinya. Sebab takdir lebih kuat dari diri kita, dan kita terlalu lemah untuk melawannya.

Inilah pemahaman yang keliru terhadap makna takdir. Ibn Al-Qayyim Al-Jaziyah mengatakan bahwa takdir harus ditolak dengan takdir juga. Karena Allah Swt memerintahkan kita untuk menolak keburukan, yang termasuk juga takdir-Nya dengan kebaikan, yang juga termasuk takdir-Nya. Dia memerintahkan menolak rasa lapar yang merupakan takdir-Nya, dengan makan yang juga termasuk takdir-Nya pula.

Dari keempat faktor di atas kita dapat melihat tidak sedikit manusia yang mempunyai sikap dan pemahaman seperti yang telah diuraikan di atas. Mereka telah kalah secara psikologis dan mental selanjutnya berakibat tidak menerima nasihat dan ajakan orang kepada kebenaran dan jalan Allah. Padahal mereka tidak sadar dan memahami dengan benar bahwa hidup ini hanya sementara yang tidak  menutup kemungkinan besok dijemput oleh Allah.

Selain itu pula, syetan sebagai musuh manusia memang tidak tinggal diam dalam hal ini, dia akan terus mengelabui manusia dengan segala cara agar kiranya terus lalai dan bernostalgia dengan kemaksiatan yang dilakukannya. Mereka melihat bahwa masa tua waktu yang tepat untuk bertaubat sedangkan masa muda, lagi kuat  merupakan waktu pesta pora dan bermegah-megah.

Penutup

Hidup di dunia hanya sementara dan akan menuju kehidupan yang hakiki dan sebenarnya. Alangkah sedih dan ruginya apabila waktu yang sedikit ini kita gunakan kepada hal yang tidak bermanfaat. Dari itu sangatlah layaklah bagi kita untuk mempertimbangkan faktor-faktor di atas sebagai upaya mewaspadai sifat menangguhkan untuk mendapatkan ampunan Allah manakala kita melakukan kesalahan dan dosa. Sebab Rasulullah sendiri yang maksum tetap beristighfar 100 kali kepada Allah  setiap hari, lalu mengapa kita umatnya yang bergelimang dosa dan kesalahan enggan untuk segera bertaubat?

0 comments em “Taubat”

Post a Comment


 

Renungkanlah Copyright © 2011 -- Template created by d@nte -- Powered by Blogger