Tuesday, January 25, 2011

Kesenangan Tidak Selalu Sama Dengan Kebahagiaan

Manusia selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan hidup dan manusia hidup memang untuk diuji oleh Allah dan manusia yang tunduk pada aturanNya. Allah janjikan kebahagiaan di akhirat, sebaliknya manusia yang ingkar akan merasakan penderitaan/kesusahan dalam hidup dan ketidak tenteraman, serta mendapatkan siksa di akhirat.
  
Kehidupan yang kompleks menuntut manusia harus kuat, baik secara jasmani maupun rohani. Semakin maju suatu bangsa tidak berarti secara otomatis semakin bahagia hidupnya. Dalam zaman global seperti sekarang ini simbol-simbol zaman modern seperti yang ditampakkan oleh peradaban kota tumbuh sangat cepat, jauh melampaui kemajuan manusianya, sehingga kesenjangan antara manusia dan tempat dimana mereka hidup menjadi sangat lebar, kesenjangan itu melahirkan problem. Manusia seringkali merasa dihadapkan pada banyak masalah dan merasa tidak tahu atau kesulitan mencari penyelesaian dari masalahnya, adakalanya masalahnya sederhana, adakalanya masalah kompleks dan bisa jadi juga masalahnya sangat kompleks, adakalanya manusia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Sehingga tidak menjadi bahan psikologis yang berat padanya, tapi adakalanya manusia itu membutuhkan bantuan orang lain.
  
Manusia akan bermasalah ketika ia merasakan ada hambatan untuk mendapatkan kebahagiaan, baik hambatan itu datang dari dirinya maupun datang dari luar dirinya. Pada dasarnya manusia selalu ingin mencari kebahagiaan dan semua orang tanpa pandang usia, profesi, suku, bangsa, selalu ingin memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tujuan semua manusia, namun manusia berbeda-beda dalam cara mencari dan merasakan kebahagiaan.
  
Manusia bermasalah adalah manusia yang tidak dapat merasakan dan menemukan kebahagiaan hidup, kebahagiaan hidup tidaklah identik dengan kesenangan, meskipun kesenangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebahagiaan dan banyak orang yang tidak bisa membedakan keduanya.

Bahagia dan Senang
Dalam kehidupan sehari-hari kata “bahagia dan senang” digunakan secara silih berganti seakan-akan keduanya padanan kata. Untuk bahagia manusia memerlukan banyak kesenangan, tetapi orang yang sedang menikmati kesenangan belum tentu bahagia. Betapa banyak orang yang tertawa terbahak-bahak untuk menyembunyikan kemelut hatinya. Orang yang bahagia pasti senang, tetapi tidak semua orang yang senang pasti berbahagia. Orang bahagia mengalami kesenangan dalam kehidupannya sehari-hari dan kesenangan adalah emosi yang positif yang bisa diamati secara fisik pada kegiatan otak, arus neurotransmitter atau mekanisme hormonal. Orang bisa menikmati kesenangan dengan merangsang salah satu bagian otak yang sering disebut pusat kesenangan. Kesenangan tubuh disebut juga sebagai kesenangan indrawi dapat dibagi dua kesenangan, karena kontak dengan alat perasa (kulit dan lubang yang terdapat padanya) dan kesenangan berjarak. Disamping kesenangan indrawi, ada juga kesenangan estetik, misalnya ketika menikmati sesuatu yang abstrak dan kesenangann pencapaian, misalnya ketika merasa puas ketika berhasil meraih satu prestasi setelah bekerja keras. Kesenangan indrawi pada dasarnya tidak pernah terpuaskan dan terus mengejar kesenangan, yang akhirnya  kesenangan indrawi bisa menimbulkan kebosanan, kemudian dapat memantulkan kesedihan. Jelaslah, bahwa jika seseorang hidup hanya mencari kesenangan fisik/tubuh/biologis/indrawi, maka ia hanya akan memperoleh kesenangan-kesenangan sementara dan tidak akan memperoleh kebahagiaan.

Manusia Modern Cenderung Materialistis
Nah mari kita lihat kehidupan manusia modern yang cenderung  materialistis dan terjebak kapitalis, sangat mengagung-agungkan kenikmatan duniawi menghendaki kebebasan dalam hubungan biologis, ingin mencari harta sebanyak-banyaknya, kemudian dihabiskan untuk bersenang-senang secara fisik dan inderawi, ternyata banyak mereka yang memilih hidup seperti itu banyak yang menghadapi masalah. Manusia modern jelas cenderung kehilangan makna hidupnya, menjadi manusia yang kosong, manusia yang sibuk dan bekerja keras melakukan penyasuain diri dengan trend modern, ia merasa sedang berjuang keras untuk memenuhi keinginannya, padahal sebenarnya mereka diperbudak oleh keinginan orang lain, oleh keinginan sosial, dan mengidap berbagai gangguan psikis, gangguan kecemasan, kesepian, kebosanan, prilaku menyimpang dan psikosomatis.

Dalam Islam manusia bermasalah adalah manusia yang tidak mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan tidak pula mendapatkannya di akhirat. Ini artinya manusia yang dipandang orang lain menderita di dunia bisa jadi orang hidupnya bahagia di dunia dan di akhirat. Takaran kebahagiaan hidup bagi ummat Islam bukanlah kesenangan dunia, tetapi ketentraman hidup yang hakiki yang akan dia dapatkan, jika ia selalu memenuhi kebutuhan biologisnya secara terkontrol dengan aturan-aturan Allah dan ia tidak lupa memenuhi kebutuhan spritualnya dengan tunduk pada petunjuk dan ketetapan Allah yang telah diwahyukanNya.

Ketundukan dan ketaatan manusia pada Yang MenciptakanNya akan membuatnya hidup wajar dan mampu menghadapi masalah dengan cara yang bijak. Kondisi inilah yang akan membedakan manusia ber-iman dengan yang tidak beriman, dalam mengahadapi masalah yang sama sekali pun. Bagi orang yang beriman akan muncul kesadaran, bahwa dirinya bukanlah satu-satunya penentu jalan hidupnya, sehingga ketika ia sukses dan ia ingat bahwa ia sukses karena Allah telah membukakan jalan dan memberikan kemampuan padanya, sehingga ia akan jadi sujud dan bersyukur pada Allah atas kesuksesannya. Sebaliknya bila ia gagal ia tidak akan frustasi, apa lagi putus asa sampai ingin bunuh diri, karena ia yakin pasti hikmah tertentu dari kesulitan dan kegagalan yang dialaminya, maka ia akan bersabar dan berdoa pada Yang Maha Mengatur, serta berserah diri padaNya, mohon dibukakan jalan kehidupan yang lebih baik. Abdullah Ibnu Abbas ra berkata: “Orang-orang yang selalu mengerjakan kebajikan, wajahnya memancarkan cahaya (nur) tubuhnya memiliki kekuatan, rezekinya bertambah dan dikasihani oleh manusia. Jangan merasa bangga dengan penghormatan orang atas kedudukanmu di dunai, karena penghormatan itu akan berakhir dengan habisnya harta dan berakhirnya kekuasaanmu. Berbanggalah apabila penghormatan itu diberikan karena agama dan akhlakmu.”

Dengan demikian jelas sumber pokok kebahagiaan seseorang akan terletak pada iman yang tumbuh di hatinya. Hati yang bersih akan dengan mudah meraih kebahagiaan, sebaliknya hatu yang tidak berfungsi, yaitu hati yang sakit dan tunduk pada hawa nafsu akan manghadapi masalah hidup gejolak, emosi seperti kecemasan, frustasi, ketakutan, benci, amarah, iri, dengki, banyak berbohong, menipu, merusak diri dan orang lain, merusak lingkungan, dan mengghibah.

Akhirnya, iman dibangun di atas empat penyangga yaitu, keyakinan yang kokoh, kesabaran, keadilan dan jihad / perjuangan.

0 comments em “Kesenangan Tidak Selalu Sama Dengan Kebahagiaan”

Post a Comment


 

Renungkanlah Copyright © 2011 -- Template created by d@nte -- Powered by Blogger