Showing posts with label Manusia. Show all posts
Showing posts with label Manusia. Show all posts

Saturday, February 05, 2011

Menegakkan Keadilan

Wajah Rasulullah SAW seketika berubah merah padam, tak dapat menahan keberangannya begitu mendengar laporan Usamah bin Zaid tentang kasus pencurian yang melibatkan seorang wanita bangsawan Quraisy dari Bani Makhzumiyah. Kasus ini segera merebak menjadi berita utama di kalangan kaum Quraisy. Pasalnya, kasus ini dirasakan sangat mencoreng wajah dan merusak kredibilitas kaum Quraisy, yang selama ini disegani dan dihormati masyarakat Arab.

Suatu pertemuan terbatas segera diadakan oleh beberapa tokoh Quraisy guna mengambil langkah-langkah pengamanan. Setelah melalui beberapa pertimbangan, disepakati bahwa Usamah bin Zaid diutus untuk melobi Rasulullah SAW.

Sebagai Kepala Negara yang berkuasa penuh, kaum elite Quraisy berharap Rasulullah SAW dapat meredam kasus ini sebelum pelakunya diseret ke sidang mahkamah pengadilan. Mereka yakin Usamah dapat bernegosiasi dengan Rasulullah karena selama ini Usamah dikenal sebagai orang dekat Rasulullah, bahkan dijuluki Hibbu Rasulillah, anak emasnya Rasulullah. Ia termasuk anak muda pemberani.

Dengan mudah Rasulullah SAW menangkap maksud terselubung di balik pembicaraannya dengan Usamah. Yakni, adanya upaya kolusi dan persekongkolan yang bertujuan memetieskan kasus pencurian tersebut. Karena itu, dengan nada tinggi Beliau berkata kepada Usamah: "Apakah kamu mau menjadi pembela perkara yang melanggar batas-batas hukum Allah?" Beliau kemudian naik ke atas mimbar dan di hadapan massa yang hadir, dengan tegas Beliau mengingatkan: "Sesungguhnya hancur binasa bangsa-bangsa sebelum kamu disebabkan, bila yang mencuri datang dari kalangan kaum elite, mereka biarkan tanpa diambil tindakan apa pun. Tetapi, bila yang mencuri datang dari orang-orang lemah, segera mereka ambil tindakan. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, akan aku potong tangannya." (HR Muttafaq 'alaih)

Butir-butir kata mutiara yang terlontar, "Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri", adalah sangat tidak mungkin terjadi dalam rumah tangga Rasulullah. Seorang putri kandungnya melakukan pencurian? Pernyataan ini lebih merupakan sebuah pesan moral yang mempunyai pengaruh besar dalam tatanan kehidupan bangsa. Bahwa keadilan merupakan urat nadi kehidupan suatu bangsa yang membawa rasa tenteram, meraih kesejahteraan.

Oleh karena itu, keadilan dan persamaan hak di hadapan hukum wajib ditegakkan tanpa pilih kasih. Dan, bahwa kolusi dan persekongkolan adalah suatu tindakan kejahatan yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bangsa dan negara yang harus ditindak tegas demi keselamatan bangsa.

Cepat atau lambat, negeri manapun di dunia ini akan dihadapkan pada sebuah ancaman kehancuran, berakibat runtuhnya tatanan kehidupan bangsa, bilamana pesan moral ini tidak menjadi bagian dari hajat hidup umat manusia.

Tuesday, January 25, 2011

Kesenangan Tidak Selalu Sama Dengan Kebahagiaan

Manusia selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan hidup dan manusia hidup memang untuk diuji oleh Allah dan manusia yang tunduk pada aturanNya. Allah janjikan kebahagiaan di akhirat, sebaliknya manusia yang ingkar akan merasakan penderitaan/kesusahan dalam hidup dan ketidak tenteraman, serta mendapatkan siksa di akhirat.
  
Kehidupan yang kompleks menuntut manusia harus kuat, baik secara jasmani maupun rohani. Semakin maju suatu bangsa tidak berarti secara otomatis semakin bahagia hidupnya. Dalam zaman global seperti sekarang ini simbol-simbol zaman modern seperti yang ditampakkan oleh peradaban kota tumbuh sangat cepat, jauh melampaui kemajuan manusianya, sehingga kesenjangan antara manusia dan tempat dimana mereka hidup menjadi sangat lebar, kesenjangan itu melahirkan problem. Manusia seringkali merasa dihadapkan pada banyak masalah dan merasa tidak tahu atau kesulitan mencari penyelesaian dari masalahnya, adakalanya masalahnya sederhana, adakalanya masalah kompleks dan bisa jadi juga masalahnya sangat kompleks, adakalanya manusia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Sehingga tidak menjadi bahan psikologis yang berat padanya, tapi adakalanya manusia itu membutuhkan bantuan orang lain.
  
Manusia akan bermasalah ketika ia merasakan ada hambatan untuk mendapatkan kebahagiaan, baik hambatan itu datang dari dirinya maupun datang dari luar dirinya. Pada dasarnya manusia selalu ingin mencari kebahagiaan dan semua orang tanpa pandang usia, profesi, suku, bangsa, selalu ingin memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tujuan semua manusia, namun manusia berbeda-beda dalam cara mencari dan merasakan kebahagiaan.
  
Manusia bermasalah adalah manusia yang tidak dapat merasakan dan menemukan kebahagiaan hidup, kebahagiaan hidup tidaklah identik dengan kesenangan, meskipun kesenangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebahagiaan dan banyak orang yang tidak bisa membedakan keduanya.

Bahagia dan Senang
Dalam kehidupan sehari-hari kata “bahagia dan senang” digunakan secara silih berganti seakan-akan keduanya padanan kata. Untuk bahagia manusia memerlukan banyak kesenangan, tetapi orang yang sedang menikmati kesenangan belum tentu bahagia. Betapa banyak orang yang tertawa terbahak-bahak untuk menyembunyikan kemelut hatinya. Orang yang bahagia pasti senang, tetapi tidak semua orang yang senang pasti berbahagia. Orang bahagia mengalami kesenangan dalam kehidupannya sehari-hari dan kesenangan adalah emosi yang positif yang bisa diamati secara fisik pada kegiatan otak, arus neurotransmitter atau mekanisme hormonal. Orang bisa menikmati kesenangan dengan merangsang salah satu bagian otak yang sering disebut pusat kesenangan. Kesenangan tubuh disebut juga sebagai kesenangan indrawi dapat dibagi dua kesenangan, karena kontak dengan alat perasa (kulit dan lubang yang terdapat padanya) dan kesenangan berjarak. Disamping kesenangan indrawi, ada juga kesenangan estetik, misalnya ketika menikmati sesuatu yang abstrak dan kesenangann pencapaian, misalnya ketika merasa puas ketika berhasil meraih satu prestasi setelah bekerja keras. Kesenangan indrawi pada dasarnya tidak pernah terpuaskan dan terus mengejar kesenangan, yang akhirnya  kesenangan indrawi bisa menimbulkan kebosanan, kemudian dapat memantulkan kesedihan. Jelaslah, bahwa jika seseorang hidup hanya mencari kesenangan fisik/tubuh/biologis/indrawi, maka ia hanya akan memperoleh kesenangan-kesenangan sementara dan tidak akan memperoleh kebahagiaan.

Manusia Modern Cenderung Materialistis
Nah mari kita lihat kehidupan manusia modern yang cenderung  materialistis dan terjebak kapitalis, sangat mengagung-agungkan kenikmatan duniawi menghendaki kebebasan dalam hubungan biologis, ingin mencari harta sebanyak-banyaknya, kemudian dihabiskan untuk bersenang-senang secara fisik dan inderawi, ternyata banyak mereka yang memilih hidup seperti itu banyak yang menghadapi masalah. Manusia modern jelas cenderung kehilangan makna hidupnya, menjadi manusia yang kosong, manusia yang sibuk dan bekerja keras melakukan penyasuain diri dengan trend modern, ia merasa sedang berjuang keras untuk memenuhi keinginannya, padahal sebenarnya mereka diperbudak oleh keinginan orang lain, oleh keinginan sosial, dan mengidap berbagai gangguan psikis, gangguan kecemasan, kesepian, kebosanan, prilaku menyimpang dan psikosomatis.

Dalam Islam manusia bermasalah adalah manusia yang tidak mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan tidak pula mendapatkannya di akhirat. Ini artinya manusia yang dipandang orang lain menderita di dunia bisa jadi orang hidupnya bahagia di dunia dan di akhirat. Takaran kebahagiaan hidup bagi ummat Islam bukanlah kesenangan dunia, tetapi ketentraman hidup yang hakiki yang akan dia dapatkan, jika ia selalu memenuhi kebutuhan biologisnya secara terkontrol dengan aturan-aturan Allah dan ia tidak lupa memenuhi kebutuhan spritualnya dengan tunduk pada petunjuk dan ketetapan Allah yang telah diwahyukanNya.

Ketundukan dan ketaatan manusia pada Yang MenciptakanNya akan membuatnya hidup wajar dan mampu menghadapi masalah dengan cara yang bijak. Kondisi inilah yang akan membedakan manusia ber-iman dengan yang tidak beriman, dalam mengahadapi masalah yang sama sekali pun. Bagi orang yang beriman akan muncul kesadaran, bahwa dirinya bukanlah satu-satunya penentu jalan hidupnya, sehingga ketika ia sukses dan ia ingat bahwa ia sukses karena Allah telah membukakan jalan dan memberikan kemampuan padanya, sehingga ia akan jadi sujud dan bersyukur pada Allah atas kesuksesannya. Sebaliknya bila ia gagal ia tidak akan frustasi, apa lagi putus asa sampai ingin bunuh diri, karena ia yakin pasti hikmah tertentu dari kesulitan dan kegagalan yang dialaminya, maka ia akan bersabar dan berdoa pada Yang Maha Mengatur, serta berserah diri padaNya, mohon dibukakan jalan kehidupan yang lebih baik. Abdullah Ibnu Abbas ra berkata: “Orang-orang yang selalu mengerjakan kebajikan, wajahnya memancarkan cahaya (nur) tubuhnya memiliki kekuatan, rezekinya bertambah dan dikasihani oleh manusia. Jangan merasa bangga dengan penghormatan orang atas kedudukanmu di dunai, karena penghormatan itu akan berakhir dengan habisnya harta dan berakhirnya kekuasaanmu. Berbanggalah apabila penghormatan itu diberikan karena agama dan akhlakmu.”

Dengan demikian jelas sumber pokok kebahagiaan seseorang akan terletak pada iman yang tumbuh di hatinya. Hati yang bersih akan dengan mudah meraih kebahagiaan, sebaliknya hatu yang tidak berfungsi, yaitu hati yang sakit dan tunduk pada hawa nafsu akan manghadapi masalah hidup gejolak, emosi seperti kecemasan, frustasi, ketakutan, benci, amarah, iri, dengki, banyak berbohong, menipu, merusak diri dan orang lain, merusak lingkungan, dan mengghibah.

Akhirnya, iman dibangun di atas empat penyangga yaitu, keyakinan yang kokoh, kesabaran, keadilan dan jihad / perjuangan.

Tuesday, January 18, 2011

Hikmah Mengaku Bersalah

Rasulullah SAW tampak keheranan mendengar pengakuan tulus Ma'iz bin Malik. Sadarkah Ma'iz bahwa pengakuannya berakibat dijatuhi hukuman mati? Karena itu, Rasulullah bertanya, apakah orang ini sedang mengalami gangguan kejiwaan. "Ia tidak gila!" jawab sahabat yang hadir.

Namun, Rasulullah SAW masih juga meragukan ketulusannya. Beliaupun menyuruh salah seorang di antara yang hadir untuk mencium aroma tubuhnya. Jangan-jangan ada bau minuman keras, bisa diduga laki-laki ini sedang mabuk berat. Juga tak tercium sedikit pun bau minuman keras di tubuhnya. Untuk lebih meyakinkan, Rasulullah SAW bertanya langsung kepadanya, apakah betul Anda berzina. "Ya," jawab Ma'iz, seraya mendesak agar segera dibersihkan dirinya dari dosa zina. Dia siap menjalani hukuman rajam.

Kasus serupa terjadi pada diri wanita Ghamidiyah asal lembah Juhainah. Di hadapan Rasulullah SAW ia mengaku hamil hasil zina, dan memohon agar dijatuhi hukuman rajam seperti terjadi pada Ma'iz. Rasulullah SAW menganjurkan agar ia segera bertaubat kepada Allah, sambil menunggu lahir bayi yang di kandungnya.
Wanita itu kembali melaporkan diri setelah bayinya lahir, dan mendesak agar segera menjalani eksekusi. Rasulullah SAW masih juga menyuruhnya pulang dan memberinya kesempatan untuk menyusui sampai anaknya bisa disapih.

Wanita malang ini datang kembali sambil menggendong anaknya, di tangannya ada sepotong roti sebagai tanda bahwa sang anak benar-benar sudah disapih.

Kesempatan ini mestinya dapat dimanfaatkan oleh Ghamidiyah untuk melarikan diri. Rasulullah pun tidak akan menyuruh para sahabat mencari wanita itu, atau memasukkannya dalam daftar buronan jika benar bahwa setelah anaknya disapih ternyata ia tidak melaporkan diri. Tampaknya Rasulullah SAW sangat memahami bahwa wanita ini sungguh-sungguh bertaubat dan tidak akan mengulangi perbuatannya.

Ma'iz dan Ghamidiyah adalah sosok dua anak manusia langka di zaman sekarang ini. Keduanya datang melaporkan diri, mengakui kesalahannya, lalu minta dihukum dengan hukuman paling berat yang merenggut nyawa.

Keduanya seperti tidak yakin bahwa taubatnya diterima oleh Allah, jika hanya dengan lantunan doa dan istighfar, tanpa menjalani hukuman rajam. Keduanya memilih hukuman di dunia walaupun teramat berat, daripada di akhirat nanti dihukum dengan hukuman yang lebih dahsyat. Usai eksekusi para sahabat masih memperdebatkan, apakah taubatnya diterima oleh Allah atau tidak? Bahkan Umar bin Khattab mempertanyakan, apa layak menshalatkan jenazah orang yang berbuat dosa zina seperti ini?
"Sungguh Allah telah menerima taubatnya. Bila taubatnya dibagikan kepada seluruh umat ini, niscaya taubatnya masih tersisa," ujar Rasulullah SAW meyakinkan. (HR Muslim No 1695).

Perubahan drastis bisa terjadi pada diri seorang Muslim, manakala keyakinan akan adanya kehidupan di hari akhirat, meresap ke lubuk hati yang paling dalam. Wallahu a'lam.

Hikmah Tiga Kriteria Manusia Terbaik

Manusia merupakan makhluk yang paling mulia yang Allah Ta'alaciptakan diantara seluruh makhluk lain di dunia ini, demikian Allah Ta'ala tegaskan dalam QS  Al-Israa ayat 70; “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”

Kemuliaan yang Allah berikan disertai dengan segala potensi manusia, baik akal, alat indera, fisik, hati, dan sebagainya. Potensi-potensi tersebut harus diaktualisasikan selain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kehidupannya juga sebagai bentuk ekspresi syukur kepada sang Khaliq. Diantara sekian banyak umat manusia, mereka ada yang bersyukur (orang beriman) dan ada yang kufur (musyrik). Orang yang bersyukur inilah yang sesuai dengan harapan Allah untuk senantiasa beribadah kepada-Nya sebagaimana Allah nyatakan dalam QS.Al-Dzariyat ayat56: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaku.”

Menjadi seorang mu’min tentulah harus menjadi seorang yang terbaik di antara mu’min yang lainnya. Predikat ini lah yang Rasulullah SAW harapkan agar menjadi mu’min yang berkualitas. Dalam beberapa haditsnya, Rasul SAW telah memberikan kriteria mu’min yang terbaik . Saking banyaknya kriteria tersebut, sampai ada seorang Ulama yang menulis sebuah kitab berjudul Khairunnas (manusia yang terbaik). Dalam tulisan ini akan dicoba diulas mengenai tiga kriteria manusia terbaik yang didasarkan pada hadits Rasulullah SAW.

Pertama, khairukum man ta’allamal Qur’aan wa ‘Allamahu (orang yang terbaik dii antara kalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya (pada orang lain). Mempelajari Alquran adalah kewajiban individu (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim karena merupakan sumber utama petunjuk hidup manusia bahkan lebih khususnya lagi orang Islam. Keselamatan hidup di dunia ini tentu akan dirasakan jika manusia itu sendiri berpegang teguh pada petunjuk tersebut sebagaimana telah dijaminkan oleh Rasul SAW.

Seorang ulama bernama Abdullah Darraz mengatakan, “Alquran bagaikan mutiara yang indah berkilau. Dari sudut manapun orang melihat mutiara tersebut, pasti akan mendapatkan pancaran keindahan.” Begitu pun Alquran, siapapun orang yang membacanya pasti akan mendapatkan hidayah darinya, dari mulai orang awam sekalipun sampai tingkat ulama atau intelektual.

Kedua, manyuridillaahu khairan yufaqqihhu fid diin (siapa orang yang Allah kehendaki menjadi orang terbaik, Dia akan memahamkannya dalam urusan agama). Menjadi orang yang faham dalam urusan agama merupakan suatu keharusan bagi umat Islam karena pemahaman terhadap agama akan sangat berpengaruh pada pengamalan ajaran agamanya. Rasulullah SAW sendiri sempat memberikan isyarat betapa urgennya memahami ajaran agama dan Allah SWT pun menegaskan dalam QS Al-Taubah ayat122; “….dan hendaklah segolongan di antara kalian ada orang-orang yang mau mendalami ajaran agama (liyatafaqqohuu fiddiin ) dan memberikan peringatan kaum yang lainnya…”

Mendalami ajaran agama bersifat abadi, tidak mengenal waktu, usia, tempat. Selama hayat masih dikandung badan, selama napas masih berhembus, selama kita masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT. Hadits Rasul SAW mengatakan “Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi” (carilah ilmu dari mulai dibuai sampai meninggal). Kefahaman seseorang dalam agama akan memberikan cahaya penerang bagi umat yang lainnya. Memberikan bimbingan bagi yang tersesat, memberikan peringatan bagi yang terlalaikan.

Selain alasan di atas, kelangkaan orang yang faqih dalam agama bisa menjadi kekhawatiran bagi umat Islam. Hilangnya seorang pemimpin di pemerintahan atau perusahaan tidak perlu dikhawatirkan karena sudah banyak orang yang siap menggantinya. Berbeda halnya jika seorang ulama meninggal, maka akan sangat sulit mencari siapa penggantinya.

Sebuah adagium bahasa Arab yang menyatakan,” Jadilah engkau orang yang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Tapi jangan menjadi orang yang kelima, maka engkau akan hancur/rusak.”

Ketiga, khairunnaas anfa’uhum linnaas (sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat untuk manusia yang lainnya). Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain merupakan perkara yang sangat dianjurkan oleh agama. Hal ini menjadi indikator berfungsinya nilai kemanusiaan yang sebenarnya. Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh kemanfataannya pada yang lain. Adakah dia berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya menjadi parasit buat yang lainnya. Permisalan umum yang sering diungkapkan adalah “hiduplah bagai seekor lebah, jangan seperti lalat.”

Seekor lebah dia hidup selalu dari yang indah/bersih, dia hinggap di tangkai bunga tanpa mematahkannya, dia mengeluarkan sesuatu dzat yang sangat berguna atau menyehatkan yaitu madu. Sedangkan lalat, dia hidup selalu di lingkungan yang kotor, memberikan atau menyebarkan penyakit ke mana-mana.

Kalau kita coba menginstrospeksi diri kita, maka lihatlah keluarga kita, tetangga kita, saudara, kerabat, dan umat secara keseluruhan. Apakah mereka semua merasa senang ketika kita ada atau malah sebaliknya ? Secara filosofis keberadaan kita itu harus berimbas kemaslahatan buat yang lain bukan hanya sekedar diri kita saja.
Dari uraian di atas, kita harus bertekad untuk menjadi manusia yang terbaik (khairunnaas) versi Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Hal itu akan terasa bahagia dunia dan akhirat, tidak hanya bahagia dunia saja seperti halnya penghargaan antar manusia (award-award) dunia. Kata kuncinya adalah memberi manfaat bagi sesama. Semoga.
 

Renungkanlah Copyright © 2011 -- Template created by d@nte -- Powered by Blogger