Showing posts with label Akhirat. Show all posts
Showing posts with label Akhirat. Show all posts

Wednesday, February 20, 2013

Selamat Dunia Akhirat

Jagalah lisan, "assukuutu aslam" diam lebih selamat dari banyak bicara. Banyak bicara dapat mengeraskan hati, kurang wibawa, banyak salah dan dusta. Orang yang takut Allah, sangat bagus tutur katanya (QS 33 : 70).

Rasulullah bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, hendaklah berkata baik, benar, jujur, sopan, santun, mulia, kalau tidak diam". Diam itu emas tetapi bicara baik itu berlian.

Sahabatku, indah sekali lisannya mukmin itu, seperti cincin emas bermahkota berlian. Sungguh banyak yang kuat puasa menahan lapar haus tetapi sedikit yang kuat puasa menahan banyak bicara, apalagi dusta.

Friday, July 06, 2012

Ibadah Shalat

Allah SWT berfiman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (Al Baqarah : 43).

Ayat itu menyiratkan bahwa shalat dan ibadah sosial (zakat) merupakan ‘satu paket’ ibadah yang harus dilakukan secara bersamaan. Karena shalat merupakan wakil dari jalur hubungan dengan Allah, sedangkan zakat adalah wakil dari jalan hubungan dengan sesama manusia.

Allah SWT berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Ma’uun, 107 : 1-7)

Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa orang yang shalat itu dapat dimasukkan ke dalam neraka bilamana shalat mereka tidak membuatnya menjadi pembela kepada fakir miskin dan anak yatim.

halat yang juga merupakan ibadah terbaik, mempunyai peran luar biasa dalam mengokohkan kekuatan pengontrol pada diri manusia. Untuk itu, shalat sangat berpengaruh pada perluasan keadilan individu dan sosial.

Seseorang saat mengerjakan sholat, harus menjaga syarat-syarat yang di antaranya adalah kehalalan tempat dan pakaian yang digunakannnya. Serta tidak pernah melupakan aspek ibadah sosial. 

Bertakwa

Setiap orang, terlebih lagi seorang Muslim, pasti akan selalu mendambakan ketenangan dan kedamaian dalam hidupnya, apa pun posisi, jabatan, kedudukan, profesi, dan keahliannya.

Tentu yang di maksud dengan ketenangan dan kedamaian ini, bukanlah dalam arti yang pasif, tidak pernah berhadapan dengan problematika kehidupan. Mustahil ada orang yang tidak punya masalah. Sebab, berhadapan dengan masalah dan tantangan merupakan sunatullah dalam kehidupan 

Sadarilah bahwa sesungguhnya kesulitan dan kemudahan ibarat dua sisi pada satu koin (mata uang) yang kedua-duanya tidak bisa dipisahkan. Perhatikan firman-Nya dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Dalam Alquran Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah menyatakan bahwa sebaik-baiknya orang yang ada di antara umat manusia adalah orang yang paling bertakwa. Dalam ayat lainnya Allah berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf: 26).

Orang yang bertakwa adalah orang yang selalu memikirkan apa yang akan diucapkan dan dilakukannya tidak sembarangan dan tidak asal-asalan. Tidak ada niat sama sekali untuk melakukan kejahatan yang merugikan orang lain, terlebih lagi merugikan masyarakat dan bangsa secara luas.

Orang yang menjadikan takwa sebagai hiasan hidupnya tidak mungkin mengkhianati jabatannya dengan memanfaatkannya untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompok nya. Karena, jabatan diyakininya sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, bangsa, dan terutama kepada Allah SWT.

Dan apabila hal ini sudah masuk ke dalam struktur berpikir dan bertindak seseorang, ia akan mendapatkan ketenangan dan kedamaian yang sesungguhnya di dunia ini dan insya Allah di akhirat nanti 

Tuesday, January 25, 2011

Kesenangan Tidak Selalu Sama Dengan Kebahagiaan

Manusia selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan hidup dan manusia hidup memang untuk diuji oleh Allah dan manusia yang tunduk pada aturanNya. Allah janjikan kebahagiaan di akhirat, sebaliknya manusia yang ingkar akan merasakan penderitaan/kesusahan dalam hidup dan ketidak tenteraman, serta mendapatkan siksa di akhirat.
  
Kehidupan yang kompleks menuntut manusia harus kuat, baik secara jasmani maupun rohani. Semakin maju suatu bangsa tidak berarti secara otomatis semakin bahagia hidupnya. Dalam zaman global seperti sekarang ini simbol-simbol zaman modern seperti yang ditampakkan oleh peradaban kota tumbuh sangat cepat, jauh melampaui kemajuan manusianya, sehingga kesenjangan antara manusia dan tempat dimana mereka hidup menjadi sangat lebar, kesenjangan itu melahirkan problem. Manusia seringkali merasa dihadapkan pada banyak masalah dan merasa tidak tahu atau kesulitan mencari penyelesaian dari masalahnya, adakalanya masalahnya sederhana, adakalanya masalah kompleks dan bisa jadi juga masalahnya sangat kompleks, adakalanya manusia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Sehingga tidak menjadi bahan psikologis yang berat padanya, tapi adakalanya manusia itu membutuhkan bantuan orang lain.
  
Manusia akan bermasalah ketika ia merasakan ada hambatan untuk mendapatkan kebahagiaan, baik hambatan itu datang dari dirinya maupun datang dari luar dirinya. Pada dasarnya manusia selalu ingin mencari kebahagiaan dan semua orang tanpa pandang usia, profesi, suku, bangsa, selalu ingin memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tujuan semua manusia, namun manusia berbeda-beda dalam cara mencari dan merasakan kebahagiaan.
  
Manusia bermasalah adalah manusia yang tidak dapat merasakan dan menemukan kebahagiaan hidup, kebahagiaan hidup tidaklah identik dengan kesenangan, meskipun kesenangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebahagiaan dan banyak orang yang tidak bisa membedakan keduanya.

Bahagia dan Senang
Dalam kehidupan sehari-hari kata “bahagia dan senang” digunakan secara silih berganti seakan-akan keduanya padanan kata. Untuk bahagia manusia memerlukan banyak kesenangan, tetapi orang yang sedang menikmati kesenangan belum tentu bahagia. Betapa banyak orang yang tertawa terbahak-bahak untuk menyembunyikan kemelut hatinya. Orang yang bahagia pasti senang, tetapi tidak semua orang yang senang pasti berbahagia. Orang bahagia mengalami kesenangan dalam kehidupannya sehari-hari dan kesenangan adalah emosi yang positif yang bisa diamati secara fisik pada kegiatan otak, arus neurotransmitter atau mekanisme hormonal. Orang bisa menikmati kesenangan dengan merangsang salah satu bagian otak yang sering disebut pusat kesenangan. Kesenangan tubuh disebut juga sebagai kesenangan indrawi dapat dibagi dua kesenangan, karena kontak dengan alat perasa (kulit dan lubang yang terdapat padanya) dan kesenangan berjarak. Disamping kesenangan indrawi, ada juga kesenangan estetik, misalnya ketika menikmati sesuatu yang abstrak dan kesenangann pencapaian, misalnya ketika merasa puas ketika berhasil meraih satu prestasi setelah bekerja keras. Kesenangan indrawi pada dasarnya tidak pernah terpuaskan dan terus mengejar kesenangan, yang akhirnya  kesenangan indrawi bisa menimbulkan kebosanan, kemudian dapat memantulkan kesedihan. Jelaslah, bahwa jika seseorang hidup hanya mencari kesenangan fisik/tubuh/biologis/indrawi, maka ia hanya akan memperoleh kesenangan-kesenangan sementara dan tidak akan memperoleh kebahagiaan.

Manusia Modern Cenderung Materialistis
Nah mari kita lihat kehidupan manusia modern yang cenderung  materialistis dan terjebak kapitalis, sangat mengagung-agungkan kenikmatan duniawi menghendaki kebebasan dalam hubungan biologis, ingin mencari harta sebanyak-banyaknya, kemudian dihabiskan untuk bersenang-senang secara fisik dan inderawi, ternyata banyak mereka yang memilih hidup seperti itu banyak yang menghadapi masalah. Manusia modern jelas cenderung kehilangan makna hidupnya, menjadi manusia yang kosong, manusia yang sibuk dan bekerja keras melakukan penyasuain diri dengan trend modern, ia merasa sedang berjuang keras untuk memenuhi keinginannya, padahal sebenarnya mereka diperbudak oleh keinginan orang lain, oleh keinginan sosial, dan mengidap berbagai gangguan psikis, gangguan kecemasan, kesepian, kebosanan, prilaku menyimpang dan psikosomatis.

Dalam Islam manusia bermasalah adalah manusia yang tidak mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan tidak pula mendapatkannya di akhirat. Ini artinya manusia yang dipandang orang lain menderita di dunia bisa jadi orang hidupnya bahagia di dunia dan di akhirat. Takaran kebahagiaan hidup bagi ummat Islam bukanlah kesenangan dunia, tetapi ketentraman hidup yang hakiki yang akan dia dapatkan, jika ia selalu memenuhi kebutuhan biologisnya secara terkontrol dengan aturan-aturan Allah dan ia tidak lupa memenuhi kebutuhan spritualnya dengan tunduk pada petunjuk dan ketetapan Allah yang telah diwahyukanNya.

Ketundukan dan ketaatan manusia pada Yang MenciptakanNya akan membuatnya hidup wajar dan mampu menghadapi masalah dengan cara yang bijak. Kondisi inilah yang akan membedakan manusia ber-iman dengan yang tidak beriman, dalam mengahadapi masalah yang sama sekali pun. Bagi orang yang beriman akan muncul kesadaran, bahwa dirinya bukanlah satu-satunya penentu jalan hidupnya, sehingga ketika ia sukses dan ia ingat bahwa ia sukses karena Allah telah membukakan jalan dan memberikan kemampuan padanya, sehingga ia akan jadi sujud dan bersyukur pada Allah atas kesuksesannya. Sebaliknya bila ia gagal ia tidak akan frustasi, apa lagi putus asa sampai ingin bunuh diri, karena ia yakin pasti hikmah tertentu dari kesulitan dan kegagalan yang dialaminya, maka ia akan bersabar dan berdoa pada Yang Maha Mengatur, serta berserah diri padaNya, mohon dibukakan jalan kehidupan yang lebih baik. Abdullah Ibnu Abbas ra berkata: “Orang-orang yang selalu mengerjakan kebajikan, wajahnya memancarkan cahaya (nur) tubuhnya memiliki kekuatan, rezekinya bertambah dan dikasihani oleh manusia. Jangan merasa bangga dengan penghormatan orang atas kedudukanmu di dunai, karena penghormatan itu akan berakhir dengan habisnya harta dan berakhirnya kekuasaanmu. Berbanggalah apabila penghormatan itu diberikan karena agama dan akhlakmu.”

Dengan demikian jelas sumber pokok kebahagiaan seseorang akan terletak pada iman yang tumbuh di hatinya. Hati yang bersih akan dengan mudah meraih kebahagiaan, sebaliknya hatu yang tidak berfungsi, yaitu hati yang sakit dan tunduk pada hawa nafsu akan manghadapi masalah hidup gejolak, emosi seperti kecemasan, frustasi, ketakutan, benci, amarah, iri, dengki, banyak berbohong, menipu, merusak diri dan orang lain, merusak lingkungan, dan mengghibah.

Akhirnya, iman dibangun di atas empat penyangga yaitu, keyakinan yang kokoh, kesabaran, keadilan dan jihad / perjuangan.
 

Renungkanlah Copyright © 2011 -- Template created by d@nte -- Powered by Blogger